Geographically Weighted Regression (GWR) pada Identifikasi Aset Kehidupan Masyarakat yang berpengaruh terhadap Kemiskinan

Sampai dengan tahun 2008, jumlah penduduk miskin di Jawa Timur masih relatif tinggi. Menurut BPS Propinsi Jawa Timur (2008), jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Jawa Timur pada bulan Maret 2008 sebesar 6,65 juta (18,51%). Sebagian besar  (65,26%) penduduk miskin berada di daerah perdesaan, sedangkan sisanya (34,74%) tinggal di perkotaan.

Beberapa referensi memberikan definisi yang berbeda tentang definisi dan indikator kemiskinan tersebut. Salah satu indikator kemiskinan menurut Bappenas adalah terbatasnya kecukupan dan mutu pangan. Pemenuhan kebutuhan pangan yang layak masih menjadi persoalan bagi masyarakat miskin. Pada umumnya kesulitan pemenuhan pangan ini disebabkan oleh rendahnya daya beli, tata niaga yang tidak efisien, dan kesulitan stok pangan di beberapa daerah yang terjadi pada musim tertentu.Masalah kecukupan pangan bukan hanya terkait dengan produksi bahan pangan, tetapi juga masalah peningkatan pendapatan karena mayoritas petani miskin harus membeli bahan makanan mereka. Beberapa aset kehidupan untuk pemenuhan kebutuhan pangan diantaranya hasil pertanian dan ternak. Daerah dengan aset pemenuhan kebutuhan pangan lengkap maka pemanfaatan aset tersebut dapat dioptimalkan untuk penurunan angka kemiskinan.

Kriteria penentuan penduduk miskin tentunya tergantung kondisi daerah masing-masing. Seperti yang dilakukan oleh BPS, perhitungan garis kemiskinan sebagai kriteria penentuan penduduk miskin dibedakan untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Kriteria penentuan penduduk miskin yang berbeda maka mempengaruhi kebijakan yang diberikan kepada daerah masing-masing. Suatu analisis permodelan regresi untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi angka kemiskinan yang dipengaruhi oleh karakteristik wilayah adalah sangat penting. Permodelan tersebut adalah model spasial. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut dapat berupa aset kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Beberapa aset kehidupan tersebut adalah luas tanah, produksi pertanian, peternakan, kemampuan menempuh pendidikan, dan fasilitas listrik. Dalam hal ini aset-aset tersebut diukur melalui persentase rumahtangga dengan luas kurang dari 20 m2, frekuensi penanaman padi setahun dengan 2 kali irigasi secara teknis, banyaknya ternak yang dipotong (sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi), persentase penduduk usia diatas 10 tahun yang tidak/belum pernah sekolah, dan persentase rumahtangga dengan supply listrik. Studi kasusnya adalah kemiskinan di Jawa Timur.

Gambar persebaran HCI ditunjukkan pada gambar berikut :

Melalui pemodelan spasial geographically weighted regression (GWR) factor yang signifikan berpengaruh adalah dari asset pertanian (frekuensi penanaman padi setahun dengan 2 kali irigasi secara teknis) dan pendidikan (persentase penduduk usia diatas 10 tahun yang tidak/belum pernah sekolah). Pemodelan tersebut juga memberikan pemodelan yang berbeda untuk masing-masing lokasi (kabupaten/kota). Faktor yang berpengaruh di masing-masing lokasi untuk asset pertanian dan pendidikan dapat dilihat pada gambar berikut :